Diskusi KJRI Osaka dengan Panti Lansia di Jepang bagian Barat

9

“Banyak perawat asal Indonesia yang menikmati bekerja di Jepang namun tidak berarti tidak ada hambatan atau kesulitan dalam menjalankan pekerjaannya. Keterbatasan bahasa, rindu keluarga di Indonesia, perbedaan budaya dan kebiasaan menjadi tantangan yang perlu dilalui. Karena itu, diskusi hari ini diharapkan dapat membantu menguraikan masalah yang ada sehingga program EPA dapat berjalan dengan lebih baik lagi,” demikian disampaikan Konjen RI Osaka dalam forum pertemuan dengan pengurus panti lansia dan rumah sakit yang ada di Prefektur Okayama, Yamaguchi, Ehime, Tokushima, Hyogo, Wakayama, Kanagawa, dan Niigata.

Guna memberikan pemahaman terkait keragaman budaya, dijelaskan pula secara singkat kebiasaan masyarakat Indonesia, pelaksanaan ritual agama seperti puasa, sholat lima waktu, kunjungan ke tempat ibadah, maupun arti penting jilbab. Diharapkan bahwa perbedaan dan kesulitan yang masih ditemui dalam pelaksanaan program EPA ini dapat diminimalisir melalui komunikasi dua arah guna mendapatkan solusinya.

Pertemuan selama kurang lebih satu jam tersebut diadakan di Kansai Kenshu Center (KKC), Osaka, pada tanggal 28 September 2017, dengan fasilitasi dari Association of Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships (AOTS) dan didukung oleh Japan International Corporation of Welfare Services (JICWELS).

Mewakili 12 panti lansia dan rumah sakit, para pengurus panti dan rumah sakit mengakui keunggulan perawat asal Indonesia. Peningkatan jumlah perawat/perawat lansia asal Indonesia yang diterima di Jepang maupun tingkat kelulusan perawat Indonesia pada ujian nasional menjadi indikator keunggulan tersebut.

Terkait hambatan di lapangan, pihak panti menyampaikan telah berupaya memperbaiki kekurangan yang ada, termasuk dengan memberikan jam belajar bahasa yang memadai dan mendukung keberadaan keluarga bagi perawat Indonesia yang telah lulus ujian nasional untuk tinggal mendampingi di Jepang.

Ke depannya, semua pihak sepakat untuk mengadakan komunikasi dan pertemuan secara rutin guna mendiskusikan hambatan yang ada demi keberlangsungan program EPA yang lebih baik. (Sumber: KJRI Osaka)

DSCN4838

DSCN4825

Tulisan ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.