Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia

Untuk memperingati hari Ibu ke-82, KJRI Osaka mengadakan penyuluhan mengenai pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak yang dilakukan oleh Staf Khusus Menteri Negara Pemberdayaan  Perempuan dan Perlindungan Anak (Meneg PP & PA), Ibu Pinky Saptandari, pada tanggal 8 Desember 2010.  Tujuan dari penyuluhan ini adalah untuk memberi gambaran dan masukan kepada masyarakat Indonesia dan Jepang mengenai peran Pemerintah Indonesia dalam perlindungan hukum bagi perempuan dan anak Indonesia. Acara ini dihadiri oleh sekitar 35 peserta.

Dalam acara diskusi dan tanya jawab, antara lain dijelaskan bahwa untuk mengatasi permasalahan kesehatan ibu, khususnya ibu hamil, pemerintah sejak tahun 1996 menggalakkan program “Sayang Ibu” dan “Suami SIAGA”. Sedangkan untuk peningkatan fasilitas anak-anak, Meneng PP & PA mendorong program “Kota Layak Anak” seperti di Solo yang mulai membangun taman bagi anak-anak dan pemberlakuan “jam belajar”.

Menurut ibu Pinky, dari segi masalah gender, Jepang dan Jawa memiliki kemiripan. Perbedaannya, pemerintah di Jepang tidak tinggal diam dan membuat beberapa peraturan, seperti adanya peraturan baru-baru ini bahwa suami harus meluangkan waktu lebih banyak bersama keluarga. Ada juga keharusan untuk segera pulang ke rumah setelah jam kantor. Hal ini dinilai dapat mengurangi tingkat kekerasan kepada anak oleh ayah. Menurut survey, 60% kekerasan yang dilakukan terhadap anak dilakukan oleh ayah.

Memang salah satu peran cukup berat yang diemban Meneg PP & PA adalah merubah mindset mengenai kesadaran gender di kalangan berbagai instansi di Indonesia. Namun demikian, di bidang politik, Indonesia lebih unggul dibanding Jepang karena wanita yang terjun ke dunia politik mencapai 17,4%. Dari segi jumlah terjadi peningkatan, dan dari segi kualitas pun perempuan terbukti tidak kalah.

Di Indonesia sendiri, mulai banyak kebijakan yang lebih memperhatian kepentingan kaum perempuan, misalnya adanya kesepakatan bersama dengan Kementerian Kesehatan dan beberapa Kementerian lain untuk membuat “pojok ASI” di kantor-kantor.

Di akhir acara, ibu Pinky menekankan bahwa pendidikan tetap menjadi kunci utama dalam mendukung kemajuan pemberdayaan perempuan. Pendidikan dapat merubah seseorang menjadi lebih tahu apa yang harus dilakukan.

Selain mengadakan penyuluhan di KJRI Osaka, pada hari sebelumnya (7/12/2010) Staf Khusus Meneg PP & PA didampingi Konsul Sosial Budaya KJRI Osaka juga berkesempatan melakukan kunjungan ke kantor United Nations Development Fund for Women (UNIFEM Japan) di kota Sakai, ke fasilitas di Sakai City Women`s Center yang merupakan tempat pelatihan dan pendidikan bagi para perempuan, dan ke Kantor Walikota Sakai. Dalam pertemuan tersebut antara lain dibahas mengenai movement for gender equality di kota Sakai yang telah dimulai sejak tahun 1983. Sakai City mempunyai kebijakan khususnya kepada perusahaan untuk dapat memberikan perhatian khusus bagi wanita yang sedang hamil. Kepada para bapak juga dianjurkan agar dapat pulang ke rumah lebih awal untuk membantu istri dan anak. Selain itu setiap tempat kerja dianjurkan mempunyai penitipan anak dan fasilitas pengobatan untuk anak.

Setelah kunjungan ke UNIFEM, Staf Khusus Meneg PP & PA juga mengadakan pertemuan dengan para wanita dari  berbagai negara di wilayah Kansai. Sebanyak  22 orang telah hadir dari berbagai kalangan seperti dosen, asosiasi persahabatan, pengusaha, sahabat Indonesia dan ibu rumah tangga. Dalam acara ini, tak lupa disampaikan secara singkat perkembangan pergerakan perempuan dan perlindungan anak di Indonesia serta peran pemerintah dalam hal gender equality, program kesejahteraan, dan perlindungan.

Tulisan ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>