Para Menteri Pariwisata APEC Bertemu di Nara, Jepang

Di tengah menghangatnya hubungan antara Jepang dan China akibat ditangkapnya kapten kapal China di dekat wilayah sengketa Pulau Daiyou/Senkaku, Pertemuan Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) Tingkat Menteri ke-6 (TMM6) di bidang pariwisata telah diselenggarakan sejak tanggal 22 hingga 23 September di kota Nara, Jepang. Dengan tema “Tourism for New Strategic Growth in the Asia-Pacific”, sebanyak 21 ekonomi anggota APEC termasuk 7 Menteri Pariwisata hadir dalam pertemuan ini untuk mendiskusikan upaya meningkatkan pariwisata di wilayah Asia Pasifik. Pada akhir pertemuan, para Menteri Pariwisata APEC mengadopsi Deklarasi Nara yang berisikan komitmen pengembangan kerjasama pariwisata di kawasan Asia-Pasifik. Sebelum pertemuan tingkat Menteri ini, telah diselenggarakan Pertemuan Kelompok Kerja tanggal 18-19 September 2010 di tempat yang sama.

Dalam sambutan pembukanya, Menteri Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata Jepang, Sumio Mabuchi menekankan peran penting sektor pariwisata sebagai salah satu motor pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pariwisata dikatakannya terbukti dapat memberi manfaat yang signifikan bagi pemerataan pertumbuhan ekonomi dan mendorong penciptaan lapangan kerja baru.

Delegasi Indonesia dipimpin oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, dengan anggota delegasi dari unsur Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Kementerian Luar Negeri, dan KJRI Osaka turut hadir dalam pertemuan ini. Dalam paparannya, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, Jero Wacik, menyampaikan perkembangan industri pariwisata di tanah air. “Peranan sektor pariwisata bagi perekonomian Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun”, tuturnya. Tahun 2007, sektor pariwisata menyumbangkan devisa terbesar ke-7 dalam neraca perekonomian Indonesia, dan tahun 2009 menyumbangkan devisa ke-3 terbesar setelah migas dan kelapa sawit.

Pertemuan juga membahas mengenai beberapa jenis pariwisata baru, dan pihak Indonesia memaparkan mengenai eco-tourism. Bagi Indonesia, “ecotourism merupakan salah satu bentuk pariwisata yang memberi kontribusi positif multidimensional bagi pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat setempat”. Salah satu contoh sukses yang diangkat adalah ecotourism di kawasan Pangandaran dan Raja Ampat.

Dalam pembahasan mengenai Deklarasi Nara, pihak Indonesia menggarisbawahi pentingnya sektor pariwisata sebagai motor pertumbuhan ekonomi di kawasan. Indonesia juga mengusulkan agar rumusan Deklarasi ini dapat memasukkan peran penting sektor pariwisata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, dan menjaga kelestarian lingkungan di Asia-Pasifik. Usulan ini pun didukung oleh seluruh ekonomi APEC.

Industri pariwisata secara global, termasuk Jepang, mengalami penurunan saat terjadinya krisis finansial global. Namun demikian, pada tahun 2010 diperkirakan terjadi peningkatan antara 3-4%. Jepang, yang merupakan host dalam pertemuan kali ini menyampaikan bahwa negaranya juga mengalami penurunan jumlah wisatawan. Jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Jepang tahun 2009 mengalami penurunan hampir 20% dibandingkan tahun 2008, sedangkan jumlah wisatawan Jepang yang ke luar negeri juga mengalami penurunan sekitar 3%. Saat ini pemerintah Jepang membuat Strategi Pertumbuhan Baru yang diadopsi 18 Juni 2010 untuk meningkatkan jumlah wisatawan asingke Jepang hingga 25 juta per tahun hingga awal 2020 dan menjadi 30 juta di masa mendatang.

Tulisan ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>