EKONOMI
2006,
Target Pertumbuhan Ekonomi 5,5 - 6,5 Persen
Pemerintah menargetkan
pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2006 mencapai 5,5 hingga 6,5 persen. Asumsi
pertumbuhan ekonomi ini lebih tinggi dari asumsi pertumbuhan ekonomi dalam RAPBN
2005 yang diperkirakan mencapai 5,5 persen.
Untuk harga minyak mentah
Indonesia pada 2006 diperkirakan berada pada kisaran US$ 40-45 per barel, dengan
produksi sekitar 1,075 juta barel per hari.
Hal itu disampaikan
Menteri Keuangan (Menkeu) Jusuf Anwar dalam jawaban tertulis pemerintah atas
pertanyaan anggota Komisi XI DPR. Jawaban tertulis itu disampaikan melalui rapat
kerja antara Menkeu dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (19/5).
Dikatakan, dalam kerangka
ekonomi makro Indonesia 2006, kebijakan fiskal akan tetap diarahkan untuk
menjaga stabilitas ekonomi makro guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih
berkualitas. Pemerintah telah menyusun pokok-pokok kebijakan fiskal dan kerangka
ekonomi makro RAPBN 2006 yang bertujuan mengurangi pengangguran dan mengatasi
kemiskinan secara bertahap.
Dalam kajian kerangka
ekonomi makro RAPBN 2006, pemerintah mengasumsikan nilai tukar rupiah
diperkirakan mengarah stabil dengan rentang antara Rp 8.800 hingga Rp 9.200 per
1 dolar Amerika Serikat. Adapun sasaran inflasi sebesar 5,5 persen, plus minus 1
persen diperkirakan dapat tercapai, katanya.
Pemerintah menargetkan
tingkat suku bunga sertifikat Bank Indonesia (SBI) 3 bulan diperkirakan berada
pada kisaran 6,5 hingga 8,5 persen. Pada 2006, di samping upaya mengatasi
kemiskinan dan mengurangi pengangguran, tantangan pokok yang dihadapi kebijakan
fiskal pada 2006 itu juga akan banyak berkaitan dengan upaya untuk terus
menurunkan defisit APBN dan mengurangi tingkat rasio utang terhadap produk
domestik bruto (PDB).
Hal itu bertujuan untuk
mencapai kesinambungan fiskal dengan tetap mengupayakan stimulus fiskal dalam
batas-batas yang dapat ditopang oleh sumber pembiayaan yang tersedia.
Untuk memantapkan
kesinambungan fiskal itu pada 2006, pemerintah akan menurunkan defisit anggaran
secara bertahap yaitu dari sekitar 0,8 persen atau Rp 19,5 triliun dari PDB 2005
menjadi sekitar 0,5 hingga 0,7 persen terhadap PDB 2006. Upaya penurunan defisit
itu akan dilakukan melalui peningkatan penerimaan negara dan efisiensi belanja
negara, serta penurunan stok utang pemerintah, dan rasionya terhadap PDB,
katanya.
Dijelaskan, realisasi
triwulan I APBN 2005 hingga April 2005, tercatat realisasi pengeluaran mencapai
Rp 115 miliar dari anggaran yang direncanakan sebesar Rp 4,5 triliun.
Masih rendahnya
pelaksanaan APBN 2005 itu terutama berkaitan dengan penyampaian laporan
realisasi dari masing-masing unit organisasi di daerah yang cukup membutuhkan
waktu dan akan secara berangsur dapat dipenuhi.
Sedangkan untuk belanja
modal baik berupa pengadaan barang maupun pembangunan dan rehabilitasi gedung,
serta kantor hingga saat ini masih dalam tahap persiapan.
Pemerintah juga
menyajikan pokok-pokok perubahan asumsi makro dalam APBN 2005. Dalam RAPBN 2005,
pemerintah tetap memproyeksikan harga minyak mentah Indonesia US$ 35 per barel
walaupun desakan untuk mengadakan perubahan asumsi tersebut cukup tinggi.
Sementara pertumbuhan
ekonomi pada RAPBN 2005 diperkirakan akan berada pada kisaran 5,5 persen lebih
tinggi dari perkiraan di APBN 2005 sebesar 5,4 persen. (Suara Pembaruan)
@
Pengelolaan
Perusahaan di Indonesia Terburuk di Asean
Pengelolaan
perusahaan di Indonesia secara baik (good corporate governance) paling
buruk dibandingkan negara Asean lainnya. Pada 2004, ranking Indonesia jauh di
bawah Malaysia dan Thailand. "Country score Indonesia 4,0,"
kata Mas Ahmad Daniri, Ketua Komite Tetap Good Corporate Governance Kadin
Indonesia, Kamis (19/4), di Jakarta.
Skor
negara lain seperti Filipina adalah 5,0; Thailand 5,3; Malaysia 6,0; dan
Singapura 7,8. Peringkat pengelolaan perusahaan yang baik ini dikelurkan okeh
CLSA Asia pada 2004.
Berdasarkan
skor, sebenarnya Indonesia meningkat dalam pelaksanaan GCG. Pada 2003 skor
Indonesia baru 3,2. "Tapi memang masih tertinggal jauh dari negara lainnya,"
ujar Mas Ahmad.
Untuk
memperbaiki pelaksanaan good corporate governance, Kadin membuka klinik
GCG. Kadin, kata Mas Ahmad, menyediakan 35 konsultan untuk membantu perusahaan
milik anggota Kadin untuk mengelola perusahaan dengan baik. Untuk mendapatkan
layanan konsultasi perusahaan dikenakan biaya Rp 500 ribu.
Dengan
ikut klinik GCG, kata Mas Ahmad, perusahaan diharapkan dapat menerapkan
prinsip-prinsip pengelolaan yang bersih. Pengelolaan yang bersih meliputi bidang
pertanggungjawaban, akuntabilitas, kesetaraan, dan transparansi.(Koran Tempo)
@
Asumsi Makro RAPBN
2006 Nilai Tukar Rp 9.200 per Dollar AS
Pemerintah memperkirakan
nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat pada tahun 2006 akan stabil
di kisaran maksimal Rp 9.200 per dollar AS, atau melemah dibandingkan dengan
asumsi pemerintah dalam APBN Perubahan 2005 yang ditetapkan Rp 8.900 per dollar
AS. Jika nilai tukar itu terjaga dan pasokan barang terjamin, sasaran inflasi
tahun 2006 diperkirakan mencapai 5,5 persen.
"Sejalan dengan
sasaran inflasi tersebut, tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
tiga bulan akan berada pada kisaran 6,5 persen hingga 8,5 persen. Itu relatif
stabil dibandingkan dengan perkembangan tingkat suku bunga SBI tahun 2005 yang
diperkirakan mencapai rata-rata 8 persen," kata Menteri Keuangan Jusuf
Anwar dalam dua kali Rapat Kerja, yakni dengan Komisi XI dan Panitia Anggaran
DPR, Kamis (19/5) di Jakarta.
Dalam rapat kerja dengan
Panitia Anggaran ini hadir juga Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala
Bappenas Sri Mulyani Indrawati.
Jusuf menegaskan,
momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia yang meningkat diperkirakan akan terus
berlanjut. Pada tahun 2006, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan pada
kisaran 5,5 persen hingga 6,5 persen, atau lebih tinggi dari perkiraan tahun
2005 yang mencapai 5,5 persen. "Pertumbuhan ekonomi itu diharapkan akan
didukung oleh meningkatnya peranan investasi dan ekspor. Indikasi awal
menunjukkan, investasi akan lebih didominasi oleh investasi baru daripada
perluasan investasi," kata Jusuf.
Harga minyak
Di sisi lain, menurut
Jusuf, dengan mempertimbangkan masih ketatnya pasokan minyak mentah di pasaran
dunia serta tingginya harga dan permintaan dunia, harga minyak mentah Indonesia
pada tahun 2006 diperkirakan berada di kisaran 40-45 dollar AS per barrel.
Sementara produksi minyak mentahnya sendiri turun dari 1,125 juta barrel per
hari di tahun 2005 menjadi 1,075 juta barrel per hari pada tahun 2006.
"Itu terjadi
mengingat ladang-ladang minyak baru belum berproduksi secara optimal, sementara
terdapat penurunan secara alamiah terhadap ladang-ladang yang ada dan relatif
berumur tua," kata Jusuf.
Jusuf menyebutkan, hingga
tanggal 30 April 2005 terdapat surplus anggaran senilai Rp 20,6 triliun. Hal itu
disebabkan karena realisasi pendapatan negara dan hibah telah mencapai Rp 119,57
triliun, sedangkan realisasi belanja negara hanya sebesar Rp 98,9 triliun.
"Realisasi belanja
pemerintah pusat itu antara lain meliputi belanja pegawai, pembayaran bunga
utang, dan pembayaran subsidi," kata Jusuf.
Karena investasi
Sementara itu, Odd Per
Brekk dari misi Dana Moneter Internasional (IMF) dan Stephen Schwartz dari
Perwakilan IMF di Indonesia, kepada pers di Jakarta, hari Kamis petang
menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap memiliki momentum selama
tahun 2005.
"Suatu hal yang
menggembirakan karena basis pertumbuhan ini semakin luas, dengan investasi kian
memainkan peran pendukung. Ini berbeda dengan sebelumnya yang lebih berbasis
pada konsumsi," ujar Brekk. Kehadiran misi IMF sejak 9 Mei ini berkenaan
dengan program diskusi konsultasi pascaprogram monitoring.
Meski demikian, misi IMF
yang datang setiap enam bulan ini mengingatkan Indonesia agar terus menjaga
tingkat inflasi sehingga tidak terlalu tinggi. "Kami mendukung langkah Bank
Indonesia untuk terus menjaga laju inflasi," ujar Brekk. Dia juga
mengingatkan soal angka kemiskinan dan tingkat pengangguran yang masih relatif
tinggi.(Kompas)
@
@
Reconstruction Agency Inaugurated
President
Susilo Bambang Yudhoyono has formally inaugurated the much-awaited special
agency tasked with coordinating the rebuilding of tsunami-stricken Aceh and its
offshore islands.
The agency will manage an estimated Rp46.1 trillion ($4.81 million) in
reconstruction funds over the next five years, as well as award tenders to the
private sector for reconstruction work.
State Secretary Yusril Ihza Mahendra told a press conference on Monday (18/4/05)
that a government regulation in lieu of a law on the establishment of the agency
was signed by the president on April 16.
"The regulation stipulates that the agency will have wide powers to manage
the reconstruction efforts in Aceh and Nias, including dealing directly with the
private sector, and donor countries and agencies," he said.
The agency -- officially to be called the Executive Agency for the
Rehabilitation and Reconstruction of Aceh and Nias -- will take over the
reconstruction functions of the provincial administration.
"The province will handle other functions that are not related to the
reconstruction process. However, to avoid any overlap, a number of provincial
officials will hold ex officio positions in the agency," Mahendra said.
According to the regulation, the Aceh governor will serve as the agency's vice
chairman, with the chairman expected to be a professional or senior bureaucrat
with a "clean" reputation.
The new agency will be directly accountable to the president and financially
accountable to the Ministry of Finance.
It will be solely responsible for managing the reconstruction funds provided by
donor countries or international agencies through the state budget.
The government plans to allocate 50% of the reconstruction funds to repair and
replace damaged infrastructure.
In addition, the agency is also tasked with issuing approvals to donor agencies
that prefer to channel their contributions directly to the reconstruction
effort, rather than through the state budget.
The government has appointed the Supreme Audit Agency, the State Development
Comptroller and a private accounting firm to audit the Banda Aceh-based
agencyfs financial reports.
RI-Australia
Trade Framework
Australia
and Indonesia will negotiate a new framework to improve trade, investment and
the business environment between the two countries, Trade Minister Mark Vaile
and his Indonesian counterpart Mari Pangestu announced Monday (18/4), Dow Jones
reported.
The framework will be consistent with and supportive of both countries'
objectives in negotiations for a free trade agreement between Australia, New
Zealand and the 10-member Association of Southeast Asian Nations, and in the
World Trade Organization, Vaile said.
He and Pangestu were attending the Fifth Australia-Indonesia Trade Ministers'
meeting in Bali.
The decision to negotiate the trade and investment framework comes after a visit
to Australia in early April by Indonesian President Susilo Bambang Yudhoyono.
Vaile welcomed the commitment of the Indonesian government to economic reform
and creating a business-friendly environment.
"Stronger commercial ties are in both countries' interests," he said.
More than 400 Australian companies operate in Indonesia, he said. Vaile said he
wants to see these linkages increased through further Indonesian investment in
Australia.
Asia,
Africa seal deal to work on tsunami early warning system
Asian and African leaders agreed on Saturday to set up national early
warning systems to minimize the effects of tidal waves, following last year's
killer tsunami that claimed over 200,000 lives.
A total of 89 heads of state/government,
ministers and officials endorsed plans for the development of a coordinated
regional system on the two continents.
"We are determined to establish an
integrated strategy for the development of a multi-nodal early warning system
with mechanisms for preparedness, prevention, mitigation and response, with a
view to minimizing casualties," they said in their statement issued during
the Asian-African Summit in Jakarta.
The leaders said that they recognized the need
"to invest in the development of proactive, integrated, multi-hazard and
multi-sectoral standby arrangements and early warning systems" to mitigate
natural disasters around the Indian Ocean rim.
They vowed to work together to translate this
into concrete action by establishing a standby arrangement for disaster relief
and emergency response, creating networks for information exchange, establishing
research and database centers, maximizing the use of the latest advances in
science and technology, and developing strategies to reduce the risk and impact
of natural disasters.
"We are determined that, harnessed within a
spirit of compassion, sacrifice and endurance, our preparedness and capacity to
proactively address the effects of tsunami, earthquakes and other natural
disasters will prevail to the future betterment of our peoples," the
statement read.
The Dec. 26 tsunami, triggered by a massive
undersea earthquake, hit 11 Asian and African countries around the Indian Ocean.
The establishment of a tsunami early warning
system has become a topic of debate in the region. Some countries have proposed
a region-wide disaster warning center while others have suggested a multi-node
system.( Jakarta Post )
Australia Sambut Baik
Kebijakan Investasi Indonesia
Pemerintah
Australia menyambut baik kebijakan ekonomi pemerintahan baru Indonesia dengan
menciptakan iklim investasi yang penuh persahabatan. Hal itu memberikan harapan
meningkatnya ekspor dan investasi ke Indonesia.
gSelama
tahun 2004 saja, perdagangan dari sektor barang dan jasa telah mencapai angka
8,5 miliar dolar Asutralia,h ujar Menteri Perdagangan Australia Hon Mark Vaile
dalam jumpa pers Indonesia-Australia Business Council Coenference (IABCC)di
Hotel Conrad Nusa Dua Bali, Senin (18/4). Angka itu akan terus meningkat,
mengingat sudah sekitar 400 perusahaan Australia yang berinvestasi di Indonesia.
IABCC
merupakan pertemuan lanjutan dari Joint Declaration on Comprehensive
Partnership yang telah ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan
Perdana Menteri Australia John Howard beberapa waktu lalu.
Menteri
kedua negara akan membicarakan perluasan kerja sama dan kemungkinan investasi
dan perdagangan di sektor-sektor lain, seperti sektor agribisnis dan otomotif.
Menurut Vaile, pertemuan ini merupakan kemajuan dari korporasi dua negara yang
politik luar negerinya selalu mengalami pasang-surut. Menurutnya, ekonomi akan
menjadi perekat kuatnya.
Akan
banyak didiskusikan dalam IABCC. Yang paling menonjol adalah pasar produk
pertanian. gUntuk agribisnis akan banyak pertukaran informasi menguntungkan,h
kata Vaile. Menurutnya, Indonesia adalah pasar yang bagus untuk produk-produk
pertanian. Untuk itu iklim investasi di Indonesia mesti dikondisikan untuk
menarik lebih banyak investor Australia.
Menyambut
hal itu, Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu mengatakan akan meninjau ulang
kebijakan tarif ekspor-impor dari dan ke Australia. gAkan ada
perhitungan-perhitungan baru dengan berbagai pertimbangan. Untuk itulah
konferensi ini digelar,h tegasnya. Semua itu, katanya, untuk mengakomodasi
berbagai kepentingan kedua negara sahabat.
Selain
itu, dua negara juga akan membahas item-item kerja sama perdagangan
internasional yang akan disesuaikan dengan kepentingan dua negara. Item-item itu
akan disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan kerja sama perdagangan regional
seperti ASEAN dan APEC. Diskusi kemungkinan menjalin kerjsama regional
ASEAN-ANZ-FTA juga menjadi perhatian khusus IABCC.
gSemua
memang masih berupa software, tetapi kita berharap ini langkah yang baik
bagi kerja sama ekonomi Indonesia-Australia,h ujar Marie.(Koran tempo)
RI-OZ will negotiate a new framework on trade and investment
Australia and Indonesia will negotiate a new framework to
improve trade, investment and the business environment between the two
countries, Trade Minister Mark Vaile and his Indonesian counterpart Mari
Pangestu announced Monday (18/4), Dow Jones reported.
The framework will be consistent with and supportive of both countries'
objectives in negotiations for a free trade agreement between Australia, New
Zealand and the 10-member Association of Southeast Asian Nations, and in the
World Trade Organization, Vaile said.
He and Pangestu are attending the Fifth Australia-Indonesia Trade Ministers'
meeting on the Indonesian island of Bali.
The decision to negotiate the trade and investment framework comes after a visit
to Australia in early April by Indonesian President Susilo Bambang Yudhoyono.
Vaile welcomed a commitment of the new Indonesian government to economic reform
and creating a business-friendly environment.
This commitment offers excellent opportunities for Australian companies wishing
to export to, or invest in, Indonesia, he said in a statement.
"Stronger commercial ties are in both countries' interests," he said.
More than 400 Australian companies operate in Indonesia, he said. Vaile said he
wants to see these linkages increased through further Indonesian investment in
Australia.
The two countries are exploring a number of measures in the agribusiness sector
that should benefit companies in both countries, he said.
Positive
2006 Budget Forecast
The government says Indonesia can look forward to solid
growth next year with 6.1% growth, up from 5.5% this year.
The figure was released along with other positive projections
the government is using as the basis for drafting of the 2006 state budget, The
Jakarta Post reported.
The government sees a stronger rupiah next year, improving
exports and investment, but has taken into consideration declining oil
production.
"The inflation rate, meanwhile, will be in the range of
4.5% and 6.5%, with the rupiah stabilizing in line with our economy's improving
competitiveness."
Anwar said the government's fiscal policies would aim at
further fiscal consolidation in terms of the deficit and the country's debt
ratio, while implementing more effective and manageable state financing schemes.
"The government aims to continue lowering the budget
deficit gradually, from 0.8% this year to between 0.5% and 0.7% next year,"
he said.
"We will also decrease the country's debt to gross
domestic product (GDP) ratio from 47.5% this year to between 42.5% and 43.3%
next year."
Foreign
Reserves Rose
Foreign reserves rose to $36.07 billion in the first week of
April, from $36.03 billion the previous week, due to oil and gas receipts and
disbursement of loans, Bank Indonesia said.
Base money fell to Rp181.68 trillion, compared to 184.88
trillion a week earlier.
Investment
Figures Jump
Foreign direct investment (FDI) approvals in the first
quarter to March rose 173% year-on-year to $4.28 billion driven mainly by new
projects, the Investment Coordinating Board (BKPM) said.
Domestic investment approvals increased to Rp9.08 trillion
from Rp7.82 trillion over the same period.
There were a total of 285 new foreign projects valued at
$2.69 billion, compared with 225 projects worth $454 million a year earlier.
There were 81 expansion projects worth $684.5 million compared to 67 projects
worth $699.2 million and 37 domestic investment projects which changed status to
become FDI projects worth $899.5 million, compared with 20 projects worth $309.7
million in the first three months of 2004.
BKPM approved 46 new domestic projects worth Rp7.20 trillion, compared with 32 projects worth Rp4.45 trillion previously.
Indonesia Pertimbangkan
Jadi Peninjau di OPEC
Departemen
Luar Negeri memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk mempertimbangkan opsi
mengubah status di OPEC dari anggota menjadi peninjau. Dengan demikian,
Indonesia tetap berada dalam lingkaran OPEC, tetapi dapat dibebaskan dari
kewajiban membayar kontribusi sebesar 1 juta dollar AS per tahun.
Demikian
kesimpulan dari kertas rancangan tentang posisi Indonesia dalam konteks OPEC
dari Departemen Luar Negeri (Deplu) yang didapat Kompas, Selasa (19/4) di
Jakarta.
Deplu
menawarkan tiga opsi untuk dipertimbangkan, berkaitan dengan keanggotaan
Indonesia dalam OPEC. Tetap sebagai anggota OPEC sampai dinyatakan sebagai net
importir sehingga tidak memenuhi persyaratan keanggotaan OPEC. Keluar dari OPEC,
atau sebagai anggota namun beralih status menjadi negara peninjau.
Salah satu
anggota Tim Kajian mengenai keanggotaan Indonesia di OPEC, Abdul Muin,
menanggapi dokumen tersebut mengatakan, dokumen itu masih berupa kertas
rancangan Deplu yang lama. Tim masih menunggu tambahan masukan dari Deplu untuk
finalisasi laporan evaluasi ke Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
yang akan selesai pada pekan depan.
Dalam
dokumen itu disebutkan, dengan menjadi peninjau, Indonesia masih berada di
lingkaran OPEC, namun bebas dari kewajiban pembayaran kontribusi. Secara teknis,
alternatif ini masih perlu dinegosiasikan karena masih ditentukan oleh hasil
perundingan antara pemerintah dan negara-negara anggota OPEC.
Dalam
negosiasi tersebut, beberapa hal mungkin perlu diklarifikasi, antara lain
mengenai hak-hak dan kewajiban Indonesia sebagai peninjau, komitmen OPEC dan
negara-negara anggota terhadap Indonesia. Pemerintah juga diminta menyampaikan
kesulitan ekonomi yang dihadapi bangsa Indonesia dan kenyataan bahwa Indonesia
telah menjadi negara net importir minyak mentah.
Dengan
status peninjau, diharapkan keutuhan OPEC di mata internasional tetap terjaga
sehingga implikasi negatif terhadap harga minyak dapat diminimalkan. Selain itu,
Indonesia akan tetap dapat menikmati keuntungan ekonomis dan politis tanpa harus
membayar kontribusi tahunan. Indonesia dapat dipilih menjadi negara yang
mendapat bantuan dari OPEC Fund atau lembaga donor OPEC. Beberapa keuntungan
dari alternatif ini antara lain menghemat dana pembayaran kontribusi wajib
anggota OPEC sebesar 1 juta dollar AS per tahun. Indonesia juga tak perlu
membayar sebesar 52.016 dollar AS per tahun sebagai kontribusi wajib kepada
anggota OPEC Fund.
Terkait
dengan kedekatan hubungan dengan para anggota OPEC, masih terbuka peluang bagi
Indonesia untuk mengeksploitasi kemitraan yang sudah terjalin. Misalnya tetap
melakukan investasi di bidang gas di Indonesia, meningkatkan jumlah pengiriman
tenaga profesional Indonesia, dan meningkatkan bantuan keuangan secara
bilateral. Indonesia juga diharapkan masih dapat meminta informasi mengenai
ramalan harga minyak untuk dipakai sebagai penentuan asumsi harga minyak mentah
dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Keuntungan
politik
Keuntungan
politis selama Indonesia tetap menjadi anggota OPEC antara lain posisi tawar
Indonesia dalam perundingan energi dunia. Hal itu karena OPEC adalah organisasi
negara berkembang yang sangat berpengaruh. Jika Indonesia masih tetap jadi
anggota OPEC, posisi tawarnya akan meningkat bila peran OPEC semakin kuat dalam
penentuan harga minyak dunia. Kendati hal yang sebaliknya bisa terjadi, yaitu
jika peran humas OPEC tidak efektif.
Memperkuat solidaritas Indonesia dengan negara-negara anggota OPEC, terutama terhadap upaya menghadapi permasalahan nasional, seperti masalah HAM, integritas nasional, penanganan masalah-masalah di Aceh, Irian Jaya, Maluku, dan Sulawesi Tengah. OPEC didirikan di Baghdad tahun 1960, dipicu oleh keputusan sepihak perusahaan minyak multinasional yang dikenal dengan sebutan seven sisters untuk menurunkan harga minyak pada tahun 1959 dan 1960. Awalnya, saat OPEC didirikan hanya beranggotakan lima negara, yaitu Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Venezuela. Selanjutnya, jumlah anggota bertambah setelah negara lain bergabung, antara lain Qatar (1961), Indonesia (1962), Libya (1962), Uni Emirat Arab (1967), dan Aljazair (1969).(Kompas)
BUMN Dikhawatirkan Menjadi
Lembaga Politik
Pergantian
pemerintah yang diikuti pergantian direksi di BUMN akan mendistorsi manajemen
perusahaan. BUMN akhirnya menjadi mirip lembaga politik. Jika hal ini masih
terus dilakukan, revitalisasi BUMN yang menelan dana Rp 425 triliun akan sia-sia.
Demikian
pendapat Ketua Komisi XI DPR Paskah Suzetta dan anggota Komisi XI DPR, Uray
Feisal Hamid, Selasa (19/4), mengenai maraknya pergantian direksi badan usaha
milik negara (BUMN) akhir-akhir ini. Kedua wakil rakyat yang membidangi masalah
keuangan dan perbankan itu mengakui, di beberapa BUMN telah muncul keresahan
akibat tidak transparannya pergantian direksi. Keresahan akan mengakibatkan
hilangnya inisiatif dan produktivitas karyawan.
Paskah
Suzetta berpendapat, pergantian direksi itu wajar dan harus dilakukan jika masa
jabatannya sudah berakhir. Akan tetapi, pergantian itu harus dilakukan secara
transparan, diumumkan kepada publik siapa calonnya, dan seyogianya para
profesional, bukan birokrat.
Yang yang
terjadi selama ini, kata Paskah, pergantian itu terkait dengan keinginan
subyektif menteri BUMN dan beberapa menteri terkait. Pengganti yang ditunjuk
juga orang-orang yang selama ini dikenal dekat dengan para menteri. Umumnya
birokrat dan bahkan kerap tidak berpengalaman dalam mengelola bisnis.
Budaya
nepotisme
Akibatnya,
budaya nepotisme ikut terbawa dalam manajemen BUMN. Situasi demikian akan
membuat BUMN menjadi tidak sehat dan keropos seperti di masa lalu. "Sudah
saatnya kita meninggalkan kultur nepotisme dan menjauhkan BUMN dari intervensi
politik. Apalagi Indonesia makin tertinggal dari negara-negara yang tadinya di
bawah kita. Seperti halnya Malaysia,ff ujar Ketua Komisi XI dari Fraksi
Golkar tersebut. Baik Paskah maupun Uray Feisal Hamid berpendapat, kabinet
sekarang adalah koalisi beberapa parpol dengan bendera dan kepentingan politik
tidak sama. Dikhawatirkan, hal tersebut juga terbawa dalam pergantian direksi
BUMN.
"Makin
tampak gejala jika menterinya dari parpol agama, direksinya juga dipilih
berdasarkan kriteria agama yang sama. Keresahan mengenai hal ini sudah terdengar
di beberapa BUMN,ff kata Feisal. Menurut Feisal, situasi demikian akan
melahirkan politisasi BUMN dan mentransformasikannya menjadi kuasi lembaga
politik. "Dari badan usaha yang terkontaminasi politik parpol, tak mungkin
diharapkan lahir kultur korporasi yang sehat. Sebaliknya, BUMN hanya akan jadi
kereta ekonomi parpol dalam menghimpun dana bagi persiapan pemilu mendatang,ff
ujar wakil rakyat dari Fraksi Persatuan Pembangunan ini.
Kedua wakil
rakyat sependapat, di tengah belum pulihnya ekonomi Indonesia dari dampak krisis
ekonomi dan bangkrutnya para konglomerat, BUMN diharapkan menjadi lokomotif
ekonomi. Pemerintah seyogianya konsisten dan menyadari hal ini. Apalagi dana
yang dikeluarkan bagi revitalisasi BUMN jumlah yang tidak tanggung-tanggung, Rp
425 triliun.
Secara
khusus Paskah mengatakan, dalam kasus dugaan penyimpangan prosedur pemberian
kredit oleh bank BUMN, misalnya, pemerintah juga harus hati-hati dan mengikuti
mekanisme yang telah ditetapkan. Jika setiap direksi bank bisa dipanggil
Kejaksaan Agung atau Polri, dampaknya akan sangat besar terhadap kepercayaan
publik.
Bukan mustahil terjadi rush, masyarakat berbondong-bondong menarik uangnya. Ini akan mengakibatkan kesulitan likuiditas bank tersebut, seperti di masa lalu. Legitimasi bank adalah kepercayaan masyarakat dalam dan luar negeri. (Kompas)
*Awal Tahun 1980-an, Petani Didorong untuk Menanam Tanaman Ekspor
Indonesia
masih terperangkap dalam kebijakan pangan monokultur yang dimulai sejak rezim
Orde Baru. Ini merupakan bagian dari upaya penyeragaman kebudayaan dan strategi
pembangunan pertanian padat modal. Menurut Sekjen Federasi Serikat Petani
Indonesia, Henry Saragih, di Jakarta, Selasa (19/4), kebijakan itu mengarah pada
kebergantungan pada satu jenis tanaman pangan, yaitu padi, untuk menghasilkan
beras sebagai bahan pokok pangan.
Padahal,
papar Henry, ada 700 lebih suku bangsa di Indonesia yang berdiam di ribuan pulau
dengan kekayaan alam yang dapat menghasilkan beraneka ragam sumber makanan yang
menjadi kebudayaan rakyat itu sendiri.
Rakyat
Indonesia yang berdiam di Maluku dan Papua, misalnya, dulu hidup dari sagu dan
ubi-ubian yang setara dengan beras. Namun, dengan kebijakan Orde Baru, mereka
didorong untuk memakan nasi. Persoalan rawan pangan di Nusa Tenggara Timur (NTT)
belum lama ini, ungkapnya, merupakan contoh hasil proses pembangunan pertanian
monokultur itu. Padi dan palawija dipaksakan untuk dibudidayakan pada lahan
dengan kondisi geografis dan alam yang justru tak ramah terhadap kedua jenis
tanaman itu.
''Namun,
terhadap segala persoalan itu, model solusinya sampai saat ini tidak berubah.
Tampak dari penanganannya yang hanya mempersoalkan kuantitas beras, tidak pada
produksi pertanian lainnya,'' ujar Henry. Selain itu, katanya, Indonesia masih
terjebak dalam kebijakan harga pangan yang murah untuk menopang pengembangan
industri dan sektor lainnya. Padahal sektor industrilah yang seharusnya
mendukung sektor pertanian, bukan sebaliknya. ''Rezim yang berkuasa saat ini pun
belum mempunyai kebebasan politik untuk mengubah kebijakan tersebut,'' tuturnya.
Untuk
Perkebunan
Henry
mengatakan, sejak awal tahun 1980-an, petani dan perusahaan-perusahaan yang ada
di Indonesia didorong untuk menanam tanaman ekspor menggantikan tanaman pangan.
Lahan-lahan subur yang seharusnya cocok untuk tanaman pangan, digunakan untuk
perkebunan, antara lain sawit, karet, kakao, dan kopi yang luasnya hingga jutaan
hektare.
''Nilai
ekspornya memang besar. Namun, dalam skema perdagangan itu adalah semu adanya,
karena hampir sebagian besar perkebunan itu dimiliki perusahaan-perusahaan asing
dengan berbagai macam nama lokal. Sedangkan petani kita hanya sebagai buruh tani,''
ucapnya.
Kemudian,
kata Henry, sebaliknya ketergantungan pangan pada pasar internasional terjadi
pada kasus gandum, jagung, kedelai, bawang merah, gula, susu, dan daging. Tahun
2004, Indonesia mengimpor empat juta ton gandum (100 persen yang ada merupakan
impor), utamanya bagi industri roti dan mi skala besar dan kecil.
Menurutnya,
peningkatan ketergantungan pada gandum akan menjebak sistem pangan dalam negeri.
Nilai impor pangan Indonesia pada tahun 2000 untuk enam komoditas (gandum,
jagung, beras, biji kedelai, bungkil kedelai, dan kacang merah) sudah mencapai
Rp 11,8 triliun. Nilai impor sayur sudah mencapai Rp 539 miliar, dan buah Rp 478
miliar.
Dia
mengatakan, membaiknya perkembangan makro ekonomi yang dibangga-banggakan itu
ternyata tidak berpengaruh apa-apa bagi kehidupan rakyat tani sehari-hari.
Berdasar laporan BPS terakhir, perkembangan nilai tukar petani malah terus
merosot. ''Yang lebih mengiris hati adalah laporan Bappenas mengenai
berkurangnya jumlah pekerja formal secara masif di pedesaan yang mencapai 4,4
juta orang selama dua tahun terakhir,'' tuturnya.(Suara Pembaruan )
ASEAN
Plus 3 Bisa Menjadi Motor Ekonomi Asia-Afrika
Kerja sama
yang telah dirintis oleh negara-negara ASEAN bersama tiga mitra mereka, yakni
Cina, Jepang, dan Korea (ASEAN Plus 3), dapat menjadi motor penggerak kerja sama
ekonomi kawasan Asia-Afrika. Forum itu diharapkan dapat merintis perdagangan
bebas dengan fokus pada karakteristik dan keunggulan masing-masing negara.
Demikian
pandangan pakar ekonomi Asia, Bob Widyahartono, kepada Pembaruan, di
Jakarta, Senin (18/4), berkaitan dengan penyelenggaraan Konferensi Tingkat
Tinggi (KTT) Asia-Afrika di Jakarta, pekan ini. Menurutnya, perekonomian
negara-negara di kawasan Asia-Afrika tak mungkin disatukan. Sebab, masing-masing
memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda-beda. Untuk itu, perlu
dibangun aliansi kawasan yang menonjolkan keunggulan masing-masing.
''Tidak
mungkin kalau semuanya digabung seluruh kawasan Asia dan Afrika, karena setiap
kawasan mempunyai tantangan dan karakteristik yang berbeda-beda,'' ujarnya.
Dikatakan,
setiap kawasan harus memperkuat kemampuan masing-masing. Seperti untuk kawasan
Asia Timur, diperkuat melalui ASEAN plus 3, yaitu Jepang, Cina, dan Korea
Selatan, serta diperluas dengan India. Sementara kawasan Afrika sudah memiliki
Treaty of Logos dengan Economic Community of West African States (ECOWAS
- Komunitas Ekonomi Negara-negara Afrika Barat) dan South African
Development Coordination Conference (SADCC - Konferensi Koordinasi Pembangunan
Afrika Selatan).
Menurutnya,
Asia-Afrika ke depan jangan lagi terpaku pada semangat solidaritas saja.
Idealnya melalui ''Bandung Spirit'' dirintis perdagangan bebas yang
saling mendukung dalam pembangunan kawasan, dalam arti saling mendukung sumber
daya untuk industrialisasi. Dalam komunitas tersebut selayaknya ada yang
berfokus di sektor manufaktur, pertanian, dan perkebunan.
Menurut
Bob, ASEAN Plus 3 plus India dapat menjadi motor penggerak kemajuan kembali
perekonomian Asia dan Afrika. Konkretnya, kerja sama terbuka antarpembuat
kebijakan ekonomi yang diterapkan oleh pebisnis sesuai kapasitas masing-masing
dalam kerangka waktu yang matang.
Melihat
kondisi sekarang, menurut Bob, Indonesia harus realistis. Tidak mungkin
Indonesia dapat menjadi penjuru di kawasan ini karena keterpurukan ekonomi. ''Saya
melihat kemampuan Jepang, Cina, dan Korea Selatan yang akan menjadi penggerak
ekonomi di kawasan Asia Timur,'' kata dosen Fakultas Ekonomi Universitas
Tarumanagara tersebut. Untuk itu, tambahnya, yang paling penting bagi Indonesia
adalah memperkuat aliansi di antara negara di kawasan Asia Timur, dengan
mencegah kemungkinan munculnya ketegangan-ketegangan politik dan terjadinya
politik adu domba sesama negara di kawasan Asia Timur oleh negara kuat
lainnya.(Suara Pembaruan).
Indonesia-Afrika
Selatan Sepakat Bentuk Komisi Perdagangan
Indonesia
dan Afrika Selatan sepakat membentuk komisi perdagangan. Kesepakatan ini dicapai
dalam pembicaraan antara Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden
Afrika Selatan Thabo Mvuyelwa Mbeki, di Istana Merdeka, Selasa (19/4) sore.
Penandatangan
nota kesepahaman (MoU) dilakukan Menteri Perdagangan Mari Eka Pangestu dan
Menteri Luar Negeri Afrika Selatan Zuma. Pembentukan komisi perdagangan, menurut
Mari, untuk mereview isu-isu yang berkaitan dengan perdagangan bilateral,
yakni bagaimana meningkatkan dan memanfaatkan kesempatan yang ada, serta
melakukan eksplorasi ekonomi.
Kedua
negara juga sepakat bekerja sama mempelajari isu-isu global seperti WTO dan Millenium
Development Goal. "Kalau saya lihat dari potensi yang ada kita bisa
meningkatkan ekspor terutaama produk manufaktur ke afrika selatan," ungkap
Mari.
Turut
ditandatangani dalam kesempatan itu MoU dibidang pertanian oleh Menteri
Pertanian Anton Afriantono dan Menteri Luar Negari Afrika Selatan Nkosazana
Dlamini Zuma. Kedua negara juga sepakat menandatangani peningkatan kerjasama
pertukaran hewan dari kebun binatang kedua negara.
Presiden
Mbeki berkunjung ke Indonesia dalam rangka menghadiri penyelengaraan Konferensi
Tingkat Tinggi Asia Afrika, 22-23 April mendatang. Kedua pemimpin negara itu
akan memimpin KTT tersebut. Presiden Yudhoyono menyatakan telah melakukan
diskusi intensif dan produktif dengan koleganya, Mbeki. Materi yang dibirakan
adalah politik, ekonomi, sosial budaya, dan diplomatik. "Indonesia dan
Afrika Selatan memiliki hubungan yang kuat dan kami akan terus memperluas
hubungan itu," ujar Yudhoyono.Sebaliknya, Mbeki mengatakan Afsel dan
Indonesia sepakat berjuang melawan terorisme.(Koran Tempo)
Delapan
Perusahaan RI Masuk Ranking Dunia Versi Forbes
Delapan
perusahaan di Indonesia masuk peringkat perusahaan terbesar di dunia versi
Majalah Forbes edisi 18 April. Kedelapan perusahaan Indonesia itu merupakan
bagian dari 2.000 perusahaan dunia yang dinilai dari segi penjualan, profit,
aset, dan kapitalisasi pasar . Perusahaan tersebut adalah Bank Mandiri menduduki
peringkat 783, PT Telkom Tbk (824), Bank Central Asia (1.117), PT Astra
International (1.137), Bank Rakyat Indonesia (1.206), dan Bank Danamon (1.652),
Gudang Garam, Handjaya Mandala (1.991).
Sedangkan
peringkat satu hingga tiga dipegang Citigroup Company (bank), General Electric (konglomerat),
dan American Inti Group (asuransi), ketiganya berasal dari Amerika Serikat. Bank
Mandiri mampu membukukan penjualan sebesar 3.240 juta dolar AS, keuntungan 546
juta dolar AS, aset 29.405 juta dolar AS, dan kapitalisasi pasar 3.937 juta
dolar AS. PT Telkom penjualannya 3.227 juta dolar AS, profit 724 juta dolar AS,
aset 5.984 juta dolar AS, kapitalisasi pasar 9.636 juta dolar AS. PT Astra
International penjualan 3.750 juta dolar AS, profit 526 juta dolar AS, aset
3.205 juta dolar AS, kapitalisasi pasar 4.723 juta dolar AS. PT Bank Rakyat
Indonesia penjualan 1.905 juta dolar AS, profit 298 juta dolar AS, aset 11.175
juta dolar AS, kapitalisasi pasar 4.152 juta dolar AS dolar AS. Dan PT Bank
Danamon tercatat penjualannya 827 juta dolar AS, profit 260 juta dolar AS, aset
juta 6.332 dolar AS, kapitalisasi pasar 2.531 dolar AS.
Dari
sisi jumlah negara, Amerika Serikat memasukan 711 perusahaan, diikuti Jepang 326
perusahaan, dan Inggris 140 perusahaan, Prancis 62 perusahaan, dan Autralia 38
perusahaan. Di kawasan Asia Tenggara, negara Malaysia menduduki peringkat
pertama dengan 14 perusahaan yang terpilih oleh Forbes. Setelah itu Singapura
dan Thailand yang masing-masing terpilih 13 perusahaan. Filipina hanya dua
perusahaan.
Dirut
PT Telkom Tbk, Kristiono, menyatakan berterima kasih atas penilaian yang
dilakukan pihak luar terhadap kinerja perusahaannya selama ini, yang bisa masuk
dalam peringkat dunia. Ia mengatakan pihaknya tetap melakukan revisi terhadap
posisi yang lemah dan tetap meningkatkan potensi yang telah baik selama ini. ''Masuknya
Telkom di ranking perusahaan dunia membuat kita terus melakukan revisi pada
posisi yang lemah, dan meningkatkan kinerja perusahaan lebih baik lagi,'' kata
Kristiono kepada Republika, pekan lalucMenurut dia, kemampuan Telkom
selama ini membuat perusahaan melakukan introspeksi diri dan terus mengembangkan
sumber daya yang ada untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan pelayanan. PT
Telkom belum berencana melakukan ekspansi regional untuk masuk dalam persaingan
global. Akuisisi, kata dia, bagian dari strategi, yakni bisa masuk perusahaan
lain atau dapat mengambil perusahaan lain. ''Mengambil perusahaan lain itu yang
lebih cepat, tapi kita tetap memperhitungkan ke depannya,'' katanya.(Republika)
Australia Sambut Baik Kebijakan Investasi Indonesia
Pemerintah
Australia menyambut baik kebijakan ekonomi pemerintahan baru Indonesia dengan
menciptakan iklim investasi yang penuh persahabatan. Hal itu memberikan harapan
meningkatnya ekspor dan investasi ke Indonesia.
gSelama
tahun 2004 saja, perdagangan dari sektor barang dan jasa telah mencapai angka
8,5 miliar dolar Asutralia,h ujar Menteri Perdagangan Australia Hon Mark Vaile
dalam jumpa pers Indonesia-Australia Business Council Coenference (IABCC)di
Hotel Conrad Nusa Dua Bali, Senin (18/4). Angka itu akan terus meningkat,
mengingat sudah sekitar 400 perusahaan Australia yang berinvestasi di Indonesia.
IABCC
merupakan pertemuan lanjutan dari Joint Declaration on Comprehensive
Partnership yang telah ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan
Perdana Menteri Australia John Howard beberapa waktu lalu.
Menteri
kedua negara akan membicarakan perluasan kerja sama dan kemungkinan investasi
dan perdagangan di sektor-sektor lain, seperti sektor agribisnis dan otomotif.
Menurut Vaile, pertemuan ini merupakan kemajuan dari korporasi dua negara yang
politik luar negerinya selalu mengalami pasang-surut. Menurutnya, ekonomi akan
menjadi perekat kuatnya.
Akan
banyak didiskusikan dalam IABCC. Yang paling menonjol adalah pasar produk
pertanian. gUntuk agribisnis akan banyak pertukaran informasi menguntungkan,h
kata Vaile. Menurutnya, Indonesia adalah pasar yang bagus untuk produk-produk
pertanian. Untuk itu iklim investasi di Indonesia mesti dikondisikan untuk
menarik lebih banyak investor Australia.
Menyambut
hal itu, Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu mengatakan akan meninjau ulang
kebijakan tarif ekspor-impor dari dan ke Australia. gAkan ada
perhitungan-perhitungan baru dengan berbagai pertimbangan. Untuk itulah
konferensi ini digelar,h tegasnya. Semua itu, katanya, untuk mengakomodasi
berbagai kepentingan kedua negara sahabat.
Selain
itu, dua negara juga akan membahas item-item kerja sama perdagangan
internasional yang akan disesuaikan dengan kepentingan dua negara. Item-item itu
akan disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan kerja sama perdagangan regional
seperti ASEAN dan APEC. Diskusi kemungkinan menjalin kerjsama regional
ASEAN-ANZ-FTA juga menjadi perhatian khusus IABCC.
gSemua memang masih berupa software, tetapi kita berharap ini langkah yang baik bagi kerja sama ekonomi Indonesia-Australia,h ujar Marie.(Koran tempo)
Bursa
Dunia dan Indonesia Rontok
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta kemarin anjlok
36,33 poin (3,43 persen) ke 1.060,189. Ini merupakan penurunan terbesar sejak 17
Mei 2004.
Saham
unggulan yang anjlok harganya antara lain PT Astra Internasional Tbk. yang
merosot Rp 450 ke posisi Rp 1.550 per lembar saham. Penurunan juga terjadi pada
saham PT Gudang Garam Tbk. Rp 150 menjadi Rp 15.300 per saham, saham PT
Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Telkom) turun Rp 150 menjadi Rp 4.475 per saham,
dan saham PT Unilever Indonesia Rp 150 menjadi Rp 3.650 per lembar. Anjloknya
IHSG ini akibat rontoknya beberapa indeks bursa saham di dunia. Pada transaksi
kemarin, indeks Hang Seng di Hong Kong tercatat turun 2,08 persen ke 13.355,23.
Ini Diikuti indeks Nikkei-225 di bursa Tokyo anjlok 3,80 persen menjadi
10.938,44. Straits Times Singapura terpangkas 1,98 persen ke 2.107,67. Sedangkan
indeks Shanghai China turun 1,58 persen menjadi 1.197,735 (lihat tabel).
Jatuhnya
bursa saham dunia ini, menurut Manajer Ekuitas Chuo Securities Koichi Seki,
selain dipengaruhi melemahnya bursa Wall Street akibat melemahnya data
perekonomian AS, juga dipicu ketegangan antara Cina dan Jepang yang kian memanas
setelah Jepang mengeluarkan buku sejarah yang sama sekali tidak menyebutkan
kekejaman tentara Jepang saat perang dunia kedua.
"Merebaknya
demontrasi anti Jepang di China yang mulai anarkis menimbulkan kecemasan pelaku
pasar," kata Seki seperti dikutip AFP.
Sementara
itu jatuhnya IHSG di BEJ, menurut Kepala Riset PT Mandiri Sekuritas Irwan Junus,
akibat terjadinya kepanikan jual di bursa saham Jakarta. Pasar panik karena
faktor negatif dari eksternal maupun internal. Faktor eksternal adalah
terjadinya penurunan bursa global, karena turunnya data ekonomi AS, laba
perusahaan, ancaman kenaikan suku bunga Fed, dan ketegangan Cina dengan Jepang.
Ketegangan Cina dan Jepang yang kian memanas itu akan mempengaruhi ekonomi
global. Pasalnya, kedua negara itu menjadi pemain ekonomi dunia terbesar.
"Amerika
sendiri masih tergantung pada produk Cina. Sedangkan ekspor Jepang juga banyak
ke pasar Cina. Jadi ketegangan Cina dan Jepang bisa mengguncang pasar,"
kata Irwan.
Sedangkan
faktor internal adalah terjadinya kenaikan suku bunga sertifikat Bank Indonesia
(SBI) dan terpuruknya kurs rupiah. "Secara psikologis bursa saham cukup
berisiko di tengah sentimen negatif mendominasi pasar. Jika kondisi ini
berlanjut indeks bisa turun di bawah seribu," katanya.
Irwan
juga memperkirakan, tidak tertutup kemungkinan adanya peralihan dana dari pasar
modal ke pasar uang. Ini tecermin dari penurunan indeks, yang diikuti dengan
anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Pada transaksi kemarin kurs rupiah
ditutup melemah 43 poin menjadi Rp 9.575 per dolar AS dibanding posisi akhir
pekan lalu yang mencapai Rp 9.532 per dolar AS.
Menurut
analis valas dari bank asing di Jakarta, jatuhnya rupiah itu dipicu aksi borong
dolar yang dilakukan offshore (investor institusi luar) dan dunia usaha.
"Rupiah
nyaris menyentuh level Rp 9.600 per dolar AS, tepatnya di Rp 9.580 per dolar AS.
Untungnya, Bank Indonesia segera melakukan intervensi dengan menjual dolar ke
pasar, sehingga laju penurunan rupiah bisa tertahan," ujarnya.
Selain
itu, menurut analis bank asing tersebut, kemungkinan pelaku pasar keluar dari
pasar modal dan obligasi di Indonesia dan menukarkan ke dalam mata uang dolar.
Ini terlihat dari adanya lonjakan volume transaksi di pasar uang antarbank
Jakarta. "Volume transaksi hari ini cukup besar mencapai US$ 600 juta,
lebih tinggi dari hari biasanya yang hanya sekitar US$ 300-400 juta,"
katanya.
Head of Debt Capital Market Danareksa Paulus Nurwandono melontarkan
pendapat berbeda. Menurut dia, anjloknya indeks saham BEJ kemarin bukan
diakibatkan oleh larinya dana dari pasar saham ke pasar obligasi. "Hampir
tidak ada aliran dana dari pasar saham ke pasar obligasi," kata dia.
"Investor saham berbeda dengan investor obligasi, sehingga tidak akan
secepat itu investor saham melarikan dananya ke pasar obligasi," ujarnya
Menurut
Paulus, anjloknya indeks saham BEJ lebih disebabkan pengaruh anjloknya indeks
regional dan global, setelah Amerika Serikat meminta Cina segera merevaluasi
mata uangnya, yaitu renmibi. "Itu yang menakutkan pasar, sehingga indeks
anjlok."
Sementara
itu, Chief Econom PT Bank Internasional Indonesia Tbk Ferry Latuhihin
melihat jatuhnya indeks kemarin merupakan dampak dari bubble yang terjadi
pada IHSG. "Kinerja indeks sangat bagus, tapi tidak didasari oleh
fundamental yang baik," kata Ferry.
Menurut
dia, pasar memiliki keterbatasan, sehingga suatu saat indeks pasti turun.
Turunnya indeks saat ini, juga disebabkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap
dolar dan besarnya redemption yang terjadi di reksa dana belakangan
ini.(Koran tempo)
@
Pemerintah
Aktifkan Badan Koordinasi Energi Nasional
Pemerintah
mengaktifkan kembali Badan Koordinasi Energi Nasional (Bakoren) untuk mengatasi
kelangkaan pasokan energi di tanah air dan menggenjot penggunaan energi
alternatif.
Pasalnya,
penggunaan energi nasional sampai hari ini 80% masih bertumpu pada minyak dan
gas bumi (migas). Sedangkan sumber daya energi nonmigas kurang tergarap.
Menurut
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro alasan
pemerintah menggiatkan kembali keberadaan Bakoren karena harga minyak mentah
dunia terus melambung tinggi, sementara itu cadangan yang ada di Indonesia
semakin menipis. Sehingga, pemerintah akan meningkatkan penggunaan energi
alternatif.
Sasarannya,
seperti tertuang dalam cetak biru pengembangan industri energi nasional
2005-2020, adalah penggunaan bahan bakar tidak lagi tergantung pada bahan bakar
minyak (BBM), tetapi pada sumber energi alternatif lainnya.
"Kami
akan mendorong penggunaan energi alternatif seperti gas, batu bara, panas bumi
dan sumber-sumber energi lainnya," ujarnya usai melakukan pertemuan Bakoren,
akhir pekan lalu, di Jakarta. Purnomo menjelaskan, selama ini ketergantungan
Indonesia terhadap BBM sangat tinggi, sementara ekspor gas volumenya cukup besar
dan impor minyak juga besar.
Keadaan
ini mau tak mau membuat struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
selama ini tergantung dari penjualan migas. Termasuk beban akibat menanggung
subsidi BBM yang besar akibat selisih harga jual BBM domestik dengan harga
internasional yang begitu besar.
Belum
optimalnya industri energi, kata Purnomo, karena infrastruktur energi yang
kurang memadai dan harga BBM yang belum mencapai keekonomian alias masih
disubsidi, sehingga pemanfaatan energi belum efisien.
"Hal
ini membuat energi mix timpang. Padahal, masih banyak cadangan gas dan
batu bara yang belum dimanfaatkan secara optimal," jelas Purnomo.
Adapun,
selama beberapa tahun terakhir, sejumlah industri kesulitan bahan baku energi
maupun untuk bahan baku produk (feed stock). Misalnya, tersendatnya
pasokan batu bara maupun gas untuk pembangkit listrik di Jawa Barat dan Jawa
Timur, pasokan gas untuk pabrik pupuk di Aceh, dan kesulitan mendapatkan bahan
baku petrokimia naphta di dalam negeri. Di sisi lain, sekitar 80% pembangkit
listrik yang dioperasikan PLN masih menggunakan BBM yang secara ekonomis lebih
mahal dibandingkan menggunakan gas, batu bara atau panas bumi. (Media Indonesia)
Pemerintah
Negosiasikan Utang Baru Senilai 1,44 Miliar Dollar AS
Pemerintah
Indonesia telah menegosiasikan kembali baik secara bilateral maupun
multilateral, utang baru untuk sebanyak 10 perjanjian pinjaman senilai 1,44
miliar dollar AS dari berbagai donatur. Setelah dinegosiasikan, pinjaman baru
itu segera ditandatangani dalam waktu-waktu mendatang.
Pinjaman
baru tersebut meliputi komitmen dari Bank Pembangunan Asia (ADB), International
Bank for Restructuring and Development (IBRD), Islamic Development Bank (IDB),
Internatisonal Development Agency (IDA) dan Japan Bank for International
Corporation (JBIC).
Demikian
diungkapkan oleh Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan
Perencanaan Pembangaun Nasional (Bappenas) Sri Mulayani Indrawati kepada Kompas,
di Jakara, Jumat (15/7) petang. "Negosiasinya itu sudah kita lakukan sejak
akhir tahun 2004 lalu. Sekarang, kita menunggu untuk ditandatangani. DPR sudah
kita laporkan beberapa waktu yang lalu. Itu untuk pinjaman, misalnya yang
multilateral dengan ADB dan IBRD. Yang bilateral antara lain dengan JBIC.
Umumnya, pinjaman yang sudah kita negosiasikan kembali kemarin itu menyangkut
masalah pelayanan air bersih dan kesehatan, pengembangan pedesaan dan lainnya,"
ujar Sri Mulyani.
Ditanya
secara rinci pinjaman yang sudah dinegosiasikan pemerintah Indonesia, Sri
Mulyani mengaku tidak ingat persis.
Namun, dari
data yang awal bulan April lalu dilaporkan ke DPR, terungkap dari total utang
baru yang telah dinegosiasikan pemerintah sejak kepemimpinan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono senilai 1,44 miliar dollar AS. Dari utang baru itu tercatat
utang baru multilateral senilai 256,69 juta dollar AS, dan utang baru bilateral
dari JBIC senilai 119 juta dollar AS.
Utang baru
multilateral berasal dari skema pinjaman IBRD senilai 80 juta dollar AS,
sementara pinjaman IDA untuk program pengembangan kecamatan di seluruh Indonesia
senilai 80 juta dollar AS.
Adapun
untuk utang baru bilateral tercatat paling besar adalah skema pinjaman untuk
akses jalan Tanjung Priok senilai 249 juta dollar AS.
Sebelumnya,
sejak dilantik 20 Oktober 2004 hingga kini, pemerintahan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono tercatat telah menandatangani 21 perjanjian pinjaman utang luar negeri
senilai 1,62 miliar dollar AS. Utang itu terdiri dari pinjaman multilateral,
bilateral, dan kredit ekspor.
Badan
khusus utang
Lebih
lanjut, mengenai pengelolaan utang luar negeri dan dalam negeri, Sri Mulyani
menyatakan bahwa saat ini sudah ada kesamaan pendapat dari berbagai departemen
untuk membentuk satu badan tersendiri yang secara khusus menangani utang dalam
maupun luar negeri.
"Kami
sudah berbicara dengan Departemen Keuangan (Depkeu) dan departemen lainnya
mengenai rencana pembentukan badan khusus tersebut. Meskipun pada prinsipnya
semua sependapat, namun itu harus dibicarakan lebih lanjut. Yang penting, titik
awal dari kesamaan pendapat itu sudah ada," kata Sri Mulyani.
Ditanya
bagaimana dengan keberadaan Direktur Pengelolaan Surat Utang Negara Depkeu dan
Direktur Utang luar Negeri Depkeu yang sudah lebih dulu terbentuk, Sri Mulyani
menyatakan harapannya memang badan khusus itu akan mengakomodasi semua fungsi
itu menjadi satu.
"Memang,
kita belum bicara sampai seditail itu. Akan tetapi, kita semakin sepakat untuk
pengelolaan utang dari pertemuan terakhir lalu, baik yang bersifat multilatelar
maupun utang yang dari pasar seperti penerbitan obligasi internasional kemarin
itu. Jadi, itu semacam manajemen unit yang lebih baik lagi," tambah Sri
Mulyani.(kompas).
Pemerintah
Dirikan Shelter TKI di Arab dan Kuwait
Pemerintah
akan membangun shelter yang berfungsi sebagai tempat mengadu TKI jika
bermasalah dengan majikan. Di shelter itu, para TKI yang bermasalah akan
mendapat pelayanan dari pengacara, psikolog, dan petugas asuransi yang akan
membantunya sehingga permasalahannya segera teratasi. Hal itu dikemukakan
Direktur Jenderal Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri, I Gusti
Made Arka, di Jakarta, Jumat (15/4). Dikatakan, pada tahap awal pemerintah akan
membangun lima shelter, empat di Arab Saudi, yaitu di Riyadh, Damam,
Jeddah, dan Tabuk, serta satu shelter di Kuwait.
Berangkat
April
Menanggapi
TKI yang sudah mempunyai visa kerja tetapi tak kunjung dapat diberangkatkan ke
Arab Saudi, Arka mengatakan, sekitar 6.800 TKI pada akhir April ini sudah dapat
ditempatkan lagi di Arab Saudi, menyusul akan turunnya rekomendasi perjanjian
kerja (PK) dari KBRI di Riyadh dan KJRI Jeddah yang telah disahkan oleh notaris
setempat. ''Penempatan TKI ke Arab baru dapat dilaksanakan setelah turunnya
rekomendasi tersebut,'' katanya.
Pemerintah,
tambahnya, tidak ingin lagi menempatkan TKI tanpa adanya kepastian hukum atas
perlindungan mereka sebagaimana yang terjadi selama ini. Dengan adanya PK yang
disahkan notaris setempat dan rekomendasi KBRI atau KJRI, hak dan kewajiban TKI
dan majikan menjadi jelas.
Untuk TKI
yang belum memiliki visa dan paspor juga bisa diurus penempatannya ke Arab
Saudi. Mereka harus dilengkapi dengan PK baru yang memuat hak TKI untuk berlibur
satu hari setelah enam hari kerja. Jika TKI tetap bekerja di hari lembur, dia
berhak atas uang lembur.
Selain itu,
disyaratkan agar TKI boleh berkomunikasi dengan keluarga atau perwakilan
Indonesia, berhak cuti panjang (satu bulan) setelah bekerja satu tahun dan
pembayaran gajinya melalui perbankan. "Setelah beberapa dikoreksi, pihak
Arab merespons positif persyaratan di perjanjian kerja baru tersebut,"
katanya.(Suara Pembaruan )
@
Ekonomi
RI 2006 Tumbuh 6,1 Persen
Pemerintah
menargetkan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2006 mencapai 6,1 persen sehingga
tren kenaikan tingkat pertumbuhan ekonomi akan terus berlanjut dengan titik
berat pada investasi dan ekspor nonmigas. Sementara itu, tren defisit APBN
diharapkan akan menurun menjadi 0,5-0,7 persen dari produk domestik bruto atau
PDB.
"Tingkat
pertumbuhan 6,1 persen itu merupakan tingkat yang paling aman sehingga kami
dapat mempertahankan tren kenaikan pertumbuhan ekonomi dan menekan defisit dari
0,8 persen di tahun 2005 menjadi 0,5 persen hingga 0,7 persen dari PDB pada
tahun 2006. Dengan demikian, tren penurunan defisit anggaran akan terus terjadi
hingga mencapai surplus pada tahun 2009," kata Menteri Keuangan Jusuf Anwar
saat berbicara dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional, Rabu (13/4) di
Gedung Bappenas, Jakarta. Jusuf menegaskan, upaya peningkatan investasi dan
ekspor nonmigas itu dilakukan dengan mengurangi hambatan-hambatan terhadap
investasi dan ekspor, seperti menyederhanakan prosedur perizinan, reformasi
perpajakan dan kepabeanan, serta mengurangi tumpang tindih kebijakan antara
pusat, daerah, dan antar-sektor. Selain itu, dilakukan juga upaya untuk
meningkatkan kepastian hukum dan penyediaan infrastruktur.
"Langkah-langkah
lainnya untuk meningkatkan investasi dan ekspor itu adalah dengan mengurangi
jumlah penduduk miskin. Hal itu dilakukan melalui kebijakan lintas sektor yang
mengarah kepada penciptaan kesempatan usaha dan peningkatan kemampuan masyarakat
miskin. Meningkatkan kualitas pertumbuhan melalui pembangunan pertanian dan
peningkatan kegiatan ekonomi pedesaan," kata Jusuf. Menurut Jusuf, target
tingkat inflasi selama tahun 2006 ditetapkan 5,5 persen dengan tingkat suku
bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) berjangka tiga bulan sebesar 7,5 persen.
Pemerintah yakin nilai tukar rupiah terhadap dollar AS akan menguat menjadi Rp
8.800 per dollar AS, atau naik Rp 100 per dollar AS dari asumsi tahun sebelumnya.
"Asumsi
suku bunga didorong oleh kecenderungan meningkatnya suku bunga dunia, termasuk
akibat pengaruh kenaikan suku bunga Bank Sentral AS, The Fed," kata Jusuf.
Menurut
Jusuf, pemerintah tetap mengasumsikan harga minyak mentah dunia dalam RAPBN 2006
di kisaran 35 dollar AS per barrel. Produksi minyak mentah dalam negeri
diturunkan dari 1,125 juta barrel per hari pada tahun 2005 menjadi 1,075 juta
barrel per hari pada tahun 2006. Asumsi harga minyak sebesar 35 dollar AS per
barrel itu merupakan rata-rata harga minyak mentah yang akan terjadi selama
tahun 2006. "Kami tidak bisa menetapkan harga minyak mentah hingga 50
dollar AS karena hanya akan memberatkan beban pemerintah dalam dana bagi hasil
daerah. Penurunan jumlah produksi minyak itu disebabkan karena pada dasarnya
Indonesia kini sudah menjadi negara net importer minyak. Jadi, Indonesia
merupakan Presiden OPEC sekaligus pengimpor minyak," kata Jusuf.
Beban
utang
Jusuf
mengatakan, pemerintah memperkirakan beban pembayaran utang, baik pokok maupun
bunga, yang jatuh tempo pada tahun 2006 akan mencapai Rp 61,3 triliun. Kondisi
itu menyebabkan beban belanja negara pada tahun yang sama meningkat menjadi Rp
463,3 triliun.
Jumlah
pokok utang yang harus dibayar pada tahun anggaran 2006 mencapai Rp 19,75
triliun dengan kewajiban bunga utang sebesar Rp 41,6 triliun. Dengan kewajiban
itu, total belanja negara pada tahun 2006 lebih tinggi Rp 33,3 triliun
dibandingkan dengan tahun 2004 yang hanya mencapai Rp 430 triliun. Pemerintah
menargetkan penurunan rasio stok utang terhadap PDB dari 47,5 persen pada tahun
2005 menjadi antara 42,5-43,3 persen pada tahun 2006.
Optimalkan
penerimaan
Jusuf
menegaskan, pada tahun 2006, pemerintah akan mendorong penerimaan negara dari
pajak dengan tax ratio (perbandingan antara penerimaan pajak dan PDB) sekitar
12,3 persen hingga 12,5 persen. Itu lebih tinggi dibandingkan dengan tax ratio
dalam rencana pembangunan jangka menengah yang ditetapkan sebesar 11,6 persen.
"Penerimaan yang bertambah itu diiringi oleh pembengkakan belanja negara
dari 2,9 persen terhadap PDB pada tahun 2005 menjadi 3,2 persen-3,6 persen pada
tahun 2006, antara lain untuk pembiayaan defisit dan pembayaran pokok utang,"
kata Jusuf. Sementara itu, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Sri Mulyani Indrawati mengatakan, sasaran
utama pembangunan pada tahun 2006 adalah menurunkan jumlah penduduk miskin dari
15 persen pada tahun 2005 menjadi 13,3 persen pada akhir tahun 2006. Selain itu
menekan tingkat pengangguran terbuka dari 10,3 juta orang atau 9,9 persen pada
tahun 2005 menjadi 9,6 juta orang atau 8,6 persen pada tahun 2006. "Penurunan
kemiskinan dan tingkat pengangguran itu memerlukan investasi dan ekspor yang
dapat mendorong pertumbuhan ekonomi," kata Sri.
Atas dasar
itu, Sri Mulyani mengatakan, pemerintah telah menargetkan kenaikan investasi
menjadi 11,2 persen dari PDB dan ekspor nonmigas sebesar 6,5 persen dari PDB.
"Upaya itu akan dilakukan dengan memfokuskan percepatan pembangunan ekonomi
di wilayah-wilayah tertinggal, kawasan perbatasan, serta pulau-pulau terisolir,"
tutur dia.
2005,
Indonesia Kekurangan Devisa US$ 15 Miliar
Ketahanan
perekonomian Indonesia dikhawatirkan akan melemah pada tahun 2005. Berdasarkan
proyeksi Bank Indonesia (BI), tahun 2005 masih kekurangan devisa sekitar US$ 12
miliar hingga US$ 15 miliar. Hal itu antara lain disebabkan devisa hasil ekspor
tidak seluruhnya masuk ke dalam negeri, tetapi diparkir di luar negeri.
Sementara neraca perdagangan Indonesia terus mengalami defisit tiap tahun
sebesar US$ 2 miliar. Demikian diungkapkan Gubernur BI, Burhanuddin Abdullah,
saat memaparkan hasil rapat Dewan Gubernur BI, di Jakarta, Selasa (12/4). ''Menurut
proyeksi yang ada kekurangan devisa kita untuk keseluruhan ekonomi tahun ini
berkisar antara 12-15 miliar dolar. Kalau ini dibiarkan tentu akan mengurangi
ketahanan perekonomian kita,'' katanya. .
Menurut
Burhanuddin, ada beberapa hal yang menjadi perhatian BI. Kondisi neraca
perdagangan dalam akhir-akhir ini memerlukan langkah-langkah koordinasi dan
integrasi dari pemerintah dan pengusaha. Di sisi lain, BI juga melihat bahwa
neraca perdagangan Indonesia, khususnya minyak, mengalami defisit sekitar US$ 2
miliar per tahun.
''Sudah
menjadi pendapat umum bahwa dana hasil ekspor itu sering diparkir di luar negeri,''
ujarnya. Burhanuddin mengatakan, fenomena tersebut sudah diidentifikasi BI sejak
lama. Selain tampak dari neraca hasil ekspor, hal itu dibuktikan dari
perbandingan dana segar yang masuk ke dalam perekonomian. Ada jarak yang cukup
signifikan. Kondisi tersebut memerlukan kebijakan-kebijakan yang koordinatif,
yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.
Di sisi
lain, Gubernur BI juga mengatakan, perdagangan internasional menuju perbaikan.
Namun secara neto, nilai ekspor belum memberikan sumbangan yang cukup bagi
pertumbuhan ekonomi. Apalagi selama beberapa bulan terakhir, BI memantau
pertumbuhan impor juga cukup besar.
''Bentuknya,
impor dalam kerangka investasi maupun impor capital good atau impor bahan
baku, serta impor barang-barang konsumsi. Satu hal yang cukup membesarkan hati
adalah arah pertumbuhan kita sudah lebih seimbang dari beberapa waktu lalu.
Investasi sudah cukup baik dan konsumsi masih berada di depan dalam mendorong
pertumbuhan,'' katanya.
Kebijakan
Moneter
Dalam
kesempatan itu pula, Burhanuddin menegaskan, BI akan tetap menerapkan kebijakan
moneter yang cenderung ketat (tight bias) hingga tiga bulan ke depan.
Kebijakan tersebut dilakukan dalam rangka menjaga kestabilan ekonomi, khususnya
mengendalikan tingkat inflasi jangka menengah.
Selama
triwulan pertama 2005, kondisi ekonomi makro tetap stabil, meskipun tekanan pada
nilai tukar dan inflasi cenderung meningkat.
Dikatakan
pula, nilai tukar akan diarahkan dalam upaya menjaga volatilitas, sehingga tidak
terlalu bergejolak. Diharapkan kontrol yang ketat akan mengurangi dampak
terhadap tingkat inflasi, terutama guna mencapai target tingkat inflasi jangka
menengah sebesar 5 persen pada tahun 2008. Tingkat inflasi diharapkan sebanding
dan seirama dengan tingkat inflasi yang terjadi di kawasan.
Menurut
Burhanuddin, ada sejumlah faktor eksternal yang kurang kondusif bagi
perekonomian Indonesia. Pertama, kenaikan harga minyak dunia. Kedua, tekanan
inflasi secara internasional mendorong berbagai negara di kawasan untuk
menaikkan suku bunga. Ketiga, harga komoditas yang cenderung meningkat. ''Tekanan
inflasi (tahunan) akan berkisar 8,81 persen. Ini jauh dari target maksimum yang
ditugaskan pemerintah kepada BI yakni 7 persen. Hal itu akibat perkembangan
ekspektasi masyarakat, sebagai akibat dari berbagai situasi yang kurang stabil
di pasar dalam negeri,'' jelasnya. Khusus mengenai kinerja perbankan, BI menilai
periode triwulan I 2005 cukup baik. Hal itu tercermin dari indikator perbankan
seperti aspek permodalan, kualitas kredit dan tingkat profitabilitas (pembentukan
keuntungan). Berdasarkan data Februari 2005, jumlah kredit yang diberikan
tercatat mencapai Rp 601,8 triliun. Target pertumbuhan kredit perbankan sesuai
rencana bisnis tahun 2005 yakni 23,2 persen diperkirakan akan tercapai. Di sisi
kredit, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loans/NPL) gross relatif
stabil di posisi 6 persen. Sementara NPL neto membaik hingga menjadi 1,7 persen.
( Suara pembaruan ).