Ekspor Bulan April Turun 8,28 Persen

Nilai ekspor Indonesia bulan April 2005 menurun 8,28 persen dibandingkan dengan ekspor bulan sebelumnya menjadi 6,75 miliar dollar Amerika Serikat. Penurunan nilai ekspor terbesar terjadi pada ekspor bahan bakar mineral, terutama batu bara. Akan tetapi, dibandingkan dengan nilai ekspor bulan April 2004, ekspor masih meningkat sebesar 28,05 persen.

Dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (1/6), Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Choiril Maksum mengatakan, penurunan ekspor bulan April 2005 disebabkan karena menurunnya ekspor nonmigas sebesar 6,96 persen, yaitu dari 5,6 miliar dollar Amerika Serikat (AS) menjadi 5,2 miliar dollar AS. Pada saat yang sama, penurunan juga dialami oleh ekspor minyak dan gas (migas) sebesar 12,44 persen, dari 1,8 miliar dollar AS menjadi 1,6 miliar dollar AS.

"Penurunan ini merupakan musiman karena setiap tahun memang seperti itu," kata Choiril.

Sementara itu, Kepala Bagian Statistik Ekspor BPS Dantes Simbolon menegaskan, penurunan ekspor tertinggi terjadi pada produk batu bara, tembaga, serta pakaian jadi. Adapun ekspor tertinggi dicapai oleh produk kayu dan barang dari kayu.

"Hal itu disebabkan karena pada bulan April ini terjadi penurunan permintaan atas barang-barang energi di luar negeri. Sementara puncak permintaannya telah terjadi di bulan Maret," kata Dantes.

Menurunnya permintaan atas batu bara terjadi karena adanya perubahan musim dari musim dingin ke musim panas di negara-negara tujuan ekspor batu bara Indonesia. Sementara itu, penurunan ekspor tekstil terjadi karena persaingan yang ketat dengan produk tekstil dari China.

"Biasanya, kinerja ekspor Indonesia akan terus naik hingga bulan Oktober. Namun, ini terjadi karena adanya tren besar penurunan yang membuat total nilai ekspor Indonesia ikut menurun," kata Dantes.

Kinerja ekspor

Dantes menegaskan, penurunan nilai ekspor itu belum menunjukkan turunnya kinerja ekspor secara keseluruhan. Hal itu disebabkan karena nilai ekspor kumulatif bulan Januari- April 2005 masih lebih tinggi dibandingkan dengan nilai ekspor kumulatif periode yang sama tahun lalu.

"Nilai ekspor Indonesia Januari-April 2005 mencapai 26,6 miliar dollar AS, sedangkan nilai ekspor Januari-April 2004 hanya sebesar 20,31 miliar dollar AS. Jadi, ini belum menggambarkan penurunan kinerja," kata Dantes.

Choiril menyebutkan, impor Indonesia bulan April 2005 naik 0,88 persen dibandingkan dengan impor bulan sebelumnya, menjadi 5,02 miliar dollar AS. Sementara nilai impor selama Januari-April 2005 mencapai 18,41 miliar dollar AS atau meningkat 33,85 persen dibandingkan dengan impor periode yang sama tahun 2004.

"Selama Januari-April 2005, impor nonmigas terbesar terjadi pada mesin dan pesawat mekanik dengan nilai 2,53 miliar dollar AS atau 19,14 persen dari total impor nonmigas," ujar Choiril.

Sementara Dantes Simbolon menegaskan, peningkatan impor itu menunjukkan adanya proses investasi yang masuk ke dalam negeri. Hal itu ditunjukkan dengan masuknya barang-barang modal dan bahan baku sebagai pendorong impor terbesar.

"Terdapat dua kelompok barang yang memberikan kontribusi yang tinggi terhadap investasi di Indonesia, yakni mesin dan pesawat, serta kelompok mesin-mesin atau pesawat mekanik. Hal itu menunjukkan kinerja investasi menjadi lebih baik," kata Dantes Simbolon menjelaskan.(Kompas)